Kota Palangkaraya merupakan Ibukota Propinsi Kalimantan Tengah yang dirancang sebagai kota tropis di tepi Sungai Kahayan. Pembangunan Kota Palangkaraya ditandai dengan pemancangan tiang pertama pembangunan kota oleh Presiden RI pertama yaitu Ir. Soekarno pada tanggal 17 Juli 1957. Berdasarkan konsep desain kota Palangkaraya awal mulanya dan menurut tahapan pembangunan kotanya bahwa pembangunan kota Palangkaraya yang diawali dengan peletakan tiang pertama (sekarang bernama Monumen Peletakan Batu Pertama Pembangunan Kota Palangkaraya), secara berurutan di ikuti dengan pembangunan dermaga ( sekarang dikenal dengan nama Dermaga Gubernuran ), Kantor Gubernur ( sekarang berubah fungsi menjadi Gedung DPRD Propinsi), Istana Gubernur, Bundaran (sekarang bernama Bundaran Besar), Kantor – kantor Pemerintah dan perumahan pegawai pemerintah. Pada bundaran terdapat 3 (tiga) jalan yang memusat ke bundaran yaitu sekarang bernama JL. Tjilik Riwut, Jl. Yos Sudarso dan Jl. Imam Bonjol. Dan apabila as/poros Dermaga Gubernuran, Monumen, Kantor Gubernur (sekarang DPRD propinsi), Bundaran besar dan Jl. Yos Sudarso ditarik garis lurus, maka akan didapati sumbu yang mengarah ke arah timur laut dan barat daya, dan bila diteruskan maka sumbu yang ke arah timur laut akan melintasi Sungai Kahayan yang mana menurut kebudayaan dayak, sungai adalah sumber kehidupan. Sedangkan apabila sumbu yang kearah barat daya diteruskan tak terhingga ke arah barat daya, maka sumbu ini akan melintasi Kota Jakarta, diduga tepat di Istana Negara. Selain itu baru – baru ini juga di temukan adanya konsep awal penataan kota Palangkaraya seperti jaring laba – laba (diduga hasil sketsa Ir. Soekarno) yang semuanya jika dihubungkan akan berakhir pada sumbu utama yaitu tepatnya di jalan Yos Sudarso. Sumbu merupakan suatu metoda penyusunan yang telah digunakan sepanjang sejarah untuk mengorganisir bentuk- bentuk bangunan dan ruang.
Menurut sejarah awal terbentuknya sesuai rencana Bung Karno, Kota Palangkaraya mempunyai empat jalan utama yang terpusat di bundaran besar yaitu jalan Yos Sudarso, Jalan Imam Bonjol, Jalan R.T.A Milono dan Jalan G. Obos yang sekarang merupakan Komplek kantor Gubernuran. Adapun pusat pemerintahan berada di sekitar Bundaran Besar. Pada awal mula terbentuk kota Palangkaraya, jalan-jalan ini pernah direncanakan sebagai landasan udara bagi pesawat Presiden dan Wakil Presiden saat itu bila Kota Jakarta dalam keadaan darurat. Oleh karena itu lebar jalan ini dibuat dengan lebar sekitar 60 meter.
Bundaran Kecil/Bundaran Gubernuran
Pola konfigurasi eksisting tata bangunan memiliki kecenderungan mengikuti pola konfigurasi jalan yaitu memiliki kecenderungan membentuk konfigurasi linear dan radial. Konfigurasi grid dan linear menciptakan pola orientasi bangunan menghadap ke jalan. Fungsi Jalan Yos Sudarso, Imam Bonjol, Tjilik Riwut, dan RTA Milono sebagai sumbu utama memiliki pola linear dengan titik akhir adalah Bundaran Besar dan Bundaran Kecil sebagai pusat konfigurasi radial. Pola konfigurasi jalan radial memiliki membentuk pola orientasi bangunan yang terfokus pada titik pusat radial. Pola titik pusat radial ini pada penerapannya di Kota Palangkaraya didefinisikan sebagai Bundaran Besar di dekat Rujab Gubernur dan Bundaran Kecil di dekat Kantor Gubernur Kalteng.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar